JAM

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label dinamika politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dinamika politik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Oktober 2011

Proyeksi Politik Indonesia 2011

Tahun 2011 ini politik Indonesia masih akan mengalami dinamika yang tinggi meski tanpa substansi demokratik dan minus misi kenegaraan.


Politik akan segera disibukkan dengan masalah reshuffle kabinet yang telah tertunda lama akibat ketidaktegasan Presiden SBY dalam menata pemerintahannya.

Melihat pola pergantian pejabat yang ada, SBY tampaknya akan mengecewakan rakyat kembali karena tidak mengganti para pejabat yang bermasalah, tidak kompeten, maupun tidak berprestasi. Jika ada penggantian, maka muka baru yang ditunjuk sepertinya tidak akan membawa perbaikan yang berarti.

Rendahnya determinasi SBY untuk memperbaiki pemerintahannya sangat tampak pada pemilihan Jaksa Agung dan Kapolri, dua posisi strategis dalam penegakan hukum dan pemberantasan korupsi yang diklaim SBY sebagai prioritas kerjanya. Alih-alih memilih tokoh yang sudah jelas dan teruji publik komitmen, keberanian, dan terobosonnya, presiden justru memilih pejabat dari lingkaran elit yang ada.

Ini merupakan kesalahan besar SBY karena mengganggu institusionalisasi tata pemerintahan yang baik dan meneruskan sindrom orang kuat. Jika SBY percaya dan punya resoluteness untuk memperbaiki birokrasi dan pemerintahan, maka SBY harus berani memilih orang yang mumpuni, terlepas afiliasi politiknya maupun keterkaitannya dengan lembaga negara tersebut untuk mengisi jabatan-jabatan politik yang ada.

Setelah melontarkan isu capres 2014 yang sempat membuat kebisingan politik, Demokrat sebagai partai penguasa tampaknya ingin lebih aktif mengelola dinamika politik di tahun 2011. Mereka tidak ingin menjadi pariah politik seperti tahun lalu ketika dihajar oleh sekutu-sekutunya sendiri di koalisi seperti dalam kasus Century. Untuk itu akan ada berbagai isu lain yang keluar di tahun ini. Mereka ingin menjadi pihak yang aktif melempar bola, dan tidak defensif atau reaktif lagi.

Dalam revisi UU Pemilu, partai ini tentu akan memanfaatkan posisinya sebagai veto player untuk mengarahkan pembahasan yang sesuai dengan kepentingan elektoralnya sebagai partai penguasa yang besar. Sebagai the basis of all political processes, UU Pemilu sangat penting karena dari situlah semua kompetisi politik dan seleksi politisi didasarkan pada pasal-pasalnya. Setelah terpilih menjadi anggota DPR, para politisi menjadi law-makers dan pengawas pemerintah.

Dalam pembahasan ini, transaksi politik tidak akan terhindarkan karena ada banyak kepentingan partai-partai menengah dan kecil sekutunya yang menjadi taruhannya. Demokrat tentunya tidak ingin menjadi partai kerdil yang terkondisikan untuk mengalah pada tekanan-tekanan sekutu juniornya. Untuk itu, akan ada isu-isu untuk pengalihan maupun rekonsiliasi, entah terkait dengan pengisian jabatan politik, proyek pemerintah, maupun tebang pilih kasus hukum yang besar.

Selain itu, tahun ini akan ada ratusan pilkada yang menjadi sangat strategis untuk kepentingan elektoral di tahun 2014. Guna mengantisipasi semakin menguningnya atau memerahnya pemerintahan lokal, Demokrat perlu merumuskan strategi jitu untuk mengoptimalkan kemenangannya. Hanya mengandalkan kekuatan uang maupun mesin pencitraan tentu tidak menjamin kesuksesan di kompetisi lokal.

Untuk itu, Demokrat tentunya ingin mengelola persaingan dengan para sekutunya melalui berbagai upaya politik transaksional maupun jika diperlukan intimidasi politik. Dengan memiliki akses luas ke pemerintahan, partai ini dapat menawarkan pola kerjasama politik tertentu yang dapat meminimalisir potensi perlawanan politik sengit dari para mitra koalisinya di pemerintahan nasional. Sebab jika Demokrat hanya menyerahkan pada mekanisme partai di daerah, selama ini banyak kekalahan pahit yang telah ditelannya. Dengan mensikronkan politik nasional dan lokal, maka partai ini akan memiliki peluang lebih besar untuk menguasai pemerintahan daerah.

Namun tampaknya sumber daya manusia di partai tidak memungkinkan untuk berjalannya strategi seperti ini, dan tentunya dapat diduga kekalahan demi kekalahan di pilkada akan kembali dialami partai ini. Jika ini menjadi kenyataan, dan dibarengi menurunnya kepuasan publik terhadap SBY maupun Demokrat, maka pada akhir tahun partai ini akan mengalami demoralisasi yang serius. Jika trend ini terjadi, maka akan muncul lebih banyak lagi kontroversi maupun friksi politik karena adanya kepanikan di antara elit partai yang seringkali susah dikendalikan omongan maupun perilakunya.

Kecenderungan ini akan lebih mudah menjadi kenyataan karena tahun ini juga pemerintah harus membuat berbagai kebijakan yang kurang populis seperti pengurangan subsidi yang akan menaikkan beban masyarakat maupun pengerjaan berbagai proyek infrastruktur yang telah lama dijanjikan. Jika pada kebijakan pertama akan muncul polarisasi partai pro-pemerintah dan pro-rakyat, maka untuk yang kebijakan kedua akan muncul partai yang diuntungkan dari proyek-proyek besar tersebut. Friksi terbuka sangat mungkin terjadi karena itu semua bermuara pada perebutan kapital politik, yaitu uang dan image.

Dalam banyak hal, kegaduhan politik yang akan terjadi di tahun 2011 tidak terlepas dari peran dan kelemahan Presiden SBY. Sebagai presiden dan pengendali kekuatan politik terbesar, SBY terjebak dalam kondisi sebagai pihak yang paling aktif bekerja, peduli rakyat, namun terzalimi oleh kritik-kritik yang tidak mendasar. Dengan merasa selalu menjadi korban konspirasi politik maupun pembunuhan karakter, secara tidak sadar SBY telah merasa nyaman dengan kondisi psikologis seperti itu. Akibatnya dalam banyak hal komentar, kebijakan, maupun sikapnya kurang menunjukkan presidential stature yang sudah memerintah pada periode terakhir.

Problem ini memang tidak bisa diatasi karena masih kuatnya personalisasi politik Indonesia. Seandainya presiden memiliki kematangan politik, tentu ia akan memberi kewenangan yang lebih luas kepada pembantu-pembantunya yang cakap untuk mengkompensasi kelemahannya, bukannya justru merah telinganya jika mendengar kritik. Sayangnya juga, para pembantu presiden saat ini lebih banyak yang oportunis karena mereka sadar mungkin periode ini adalah kesempatan terakhir mereka untuk mengakumulasi kekayaan maupun pengaruh karena belum tentu pada periode setelah SBY mereka ini akan terpakai lagi. Untuk itu, mereka akan lebih memprioritaskan kedudukannya serta kedekatannya dengan SBY, bukan kepentingan rakyat luas maupun masalah besar yang ada.

Selain masalah-masalah politik kelembagaan terkait reshuffle kabinet, pembahasan UU politik, pilkada, kongres partai, kebijakan kontroversial seperti pembangunan gedung baru DPR atau pengurangan subsidi, maupun lemahnya penegakan hukum, tahun ini juga akan diramaikan dengan makin terkuaknya perilaku korup maupun masalah hukum banyak elit politik. Dengan semakin banyak elit politik yang secara terbuka ingin berkompetisi di 2014, maka akan semakin banyak kasus yang melibatkan mereka menjadi terbuka maupun menjadi sorotan publik dan ini akan mengakibatkan efek berantai yang luas karena menyangkut kepentingan elektoral partai pendukungnya. Politik akan tetap ramai, namun penderitaan rakyat hanya menjadi komoditas semata guna mencari simpati maupun pembuatan citra diri politisi dan pemimpin negeri ini.
* karikatur oleh Yoshi Andrian.

Realita Politik Indonesia

Barangkali kita sebagai bangsa perlu mengakui terlebih dahulu bahwa kita adalah bangsa yang kecil, pengecut, dan selalu berpikir pendek mengutamakan kepentingan pribadi/kelompok dari pada kepentingan nasional, bangsa apalagi negara. Setelah menyadari betapa cupetnya pikiran kita yang selalu inward looking dan betapa kacaunya kalkulasi strategis kita, barulah kita dapat sedikit menyadari...ingat hanya sedikit menyadari. Seperti inikah realita politik kita?





Mengapa Blog I-I menyentuh politik, tentunya dapat juga dipertanyakan dan jawabnya sangat sederhana, yakni setelah hampir 12 tahun genap reformasi satu-satunya keraguan yang membayangi masa depan Indonesia adalah proses pergantian pemimpin nasional, dimana seluruh bangsa Indonesia mengharapkan lahirnya pemimpin yang berkualitas, jujur, berani dan pandai mengelola negara serta mampu mensejahterakan rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

salah satu agenda strategis blog I-I adalah mendorong lahirnya kesadaran massa bangsa Indonsia untuk secara serius memikirkan masa depan Indonesia melalui penyusunan rencana di masing-masing bidang serta berusaha kuat untuk mengimplementasikannya. Pada saat yang bersamaan kesadaran massal tersebut membuka mata hati kita untuk dapat mengutamakan prioritas bangsa dan negara dari pada kepentingan pribadi.


Tidak dapat dipungkiri bahwa kita sebagai bangsa masih bersifat/berkarakter feodal dan selalu memimpikan lahirnya Ratu Adil yang akan mampu menjawab dan menyelesaikan persoalan bangsa. Kita selalu bersandar pada orang lain, pada pemimpin, pada pemerintah, pada pertolongan dari luar, bahkan kepada asing. Sangat bodoh bukan? Sesungguhnya kita harus memulai perbaikan dibidang apapun dari diri sendiri, mulailah mengandalkan diri sendiri dalam membawa perubahan yang lebih baik. Namun hal itu tidak berarti membesarkan ego masing-masing, melainkan membuka keberanian dan kepeloporan dalam membawa perubahan bangsa. Kebanyakan kita hanya mengikut di belakang bukan, bahkan sangat menyedihkan bila kita menyaksikan pimpinan kita-pun ternyata memiliki mentalitas yang demikian.

Saya sebagai pribadi telah mengawali satu langkah yang sangat kecil melalui Blog I-I, dan responnya bagi saya telah melampaui harapan saya pribadi. Meskipun demikian, wacana, artikel ataupun uneg-uneg dalam pikiran saya belum tentu kena di hati dan pikiran sahabat Blog I-I bukan? Malahan terdapat kecenderungan Blog I-I meningkatkan minat generasi muda Indonesia untuk bergabung dengan dunia intelijen Indonesia. Silahkan saja kepada siapapun warga negara Indonesia untuk mengabdi di bidang intelijen, namun sebagaimana kerahasiaannya tantangannya adalah menemukan jalan menuju dunia intelijen. Blog I-I sejak awal sudah mengumumkan bahwa tidak ada rekrutmen melalui Blog I-I, serta secara singkat dapat saya sarankan untuk mencarinya ke TNI yang memiliki BAIS, Polri yang memiliki sejumlah unit intelijen seperti Densus 88, Baintelkam, dll, ke Lembaga Sandi Negara, ataupun ke BIN yang merupakan Badan Intelijen Tertinggi di Indonesia.

Di luar antusiasme sebagian generasi muda yang rajin mengunjungi Blog I-I, ingin saya sampaikan sekali lagi bahwa mengabdi untuk bangsa dan negara Indonesia tidaklah harus di bidang intelijen. Melainkan di berbagai bidang dan apabila ada hal-hal yang sangat penting dan membahayakan negara dapat menginformasikan kepada Komunitas Intelijen, khususnya Polsisi dan BIN atau bahkan melalui Blog I-I untuk disampaikan kepada yang berwenang.

Tidak ada seorangpun yang dapat membawa perubahan Indonesia sendirian, siapapun kita bagian dari elemen bangsa Indonesia perlu bersinergi dan menyatukan kekuatan untuk membangun Indonesia yang sejahtera modern dan bermoral.

Sadarkah pemerintah Indonesia bahwa masih sangat banyak pekerjaan rumah dan persoalan yang menyebabkan langkah kemajuan Indonesia Raya terhambat di sana-sini. Kita tidak perlu menyalahkan orang lain, tetapi mulailah melihat kepada diri kita sendiri, kepada peranan dan sumbangan yang telah kita berikan untuk bangsa Indonesia.

Realita Politik Indonesia adalah saling menghancurkan seperti legenda kutukan Mpu Gandring kepada Ken Anggrok dan keturunannya. Kisah kehancuran para pemimpin kita dimasa lalu dan era Indonesia modern seharusnya dapat menyadarkan kita dan mendorong kita untuk tidak mengulanginya. Namun kita memang bangsa pelupa dan senang mengulangi kesalahan yang sama.

Menjadi pemimpin yang bijaksana tidak identik dengan kemampuan menyenangkan seluruh elemen dalam negara, ada kalanya pemimpin itu harus berani menghilangkan penyakit-penyakit dalam elemen negara, bukannya malahan menambah kacau sistem tata negara dengan membagi-bagi kekuasaan kepada orang-orang yang kurang terseleksi, perhatikan bagaimana kualitas para Menteri dan Wakil Menteri yang sekarang ada, Blog I-I menilai hanya 45% yang benar-benar baik selebihnya meragukan karena mereka dipilih secara mendadak dan bukan dipersiapkan jauh-jauh hari dengan penyusunan rencana dan program yang matang untuk sebuah negara sebesar Indonesia. Sungguh Blog I-I sangat sedih dengan kenyataan politik Indonesia saat ini. Beberapa sahabat Blog I-I membantah hal itu dan menyampaikan bahwa Birokrat dapat mendukung siapapun pemimpinnya, namun sadarkah kita bahwa Birokrat sekarang adalah masih sisa-sisa yang bermentalitas pengecut karena puluhan tahun dalam represi sistem orde baru dengan tingkat gaji yang sangat rendah sehingga cenderung korup dan kurang memiliki jiwa kepemimpinan.

Sebagian lagi sahabat blog I-I menyampaikan optimisitas bahwa telah lahir generasi Ratu Adil menyongsong kejayaan Indonesia Raya pada era 2050, namun saya pesimis apabila prosesnya tidak kunjung kelihatan, lihat saja bagaimana cara kita mendidik anak-anak kita di sekolah. Pendidikan anti diskriminasi yang merupakan masalah dari perbedaan ras-etnis belum menjadi hal yang utama, kita dipaksa untuk memahami Bhinneka Tunggal Ika, namun tidak diajarkan dari kecil untuk menyayangi dan saling menghormati walaupun kita berbeda etnis suku bangsa. Perhatikan bagaimana sakitnya hati saudara kita orang Papua yang mengalami perlakukan diskriminasi rasial secara laten yang ada di dalam hati suku yang berwarna kulit lebih terang. Menyedihkan bukan ?

Bagaimana caranya? semua berawal dari pribadi kita masing-masing dan dari sekolah dari pendidikan dan dari pembangunan sistem sosial ekonomi dan budaya Indonesia yang merangkul dan meramu perbedaan diantara kita menjadi kekuatan multikultural untuk kemajuan Indonesia Raya.

Siapa yang bertanggung jawab, tentu saja pemerintah bersama seluruh aparaturnya, dan dalam alam demokrasi ini inisiatif elemen bangsa dalam bentuk lembaga swadaya maupun individual akan sangat menolong percepatan kemajuan tersebut.

Entahlah, semoga rekan-rekan Blog I-I tidak terkungkung dalam sudut pandang intelijen klasik yang sempit sehingga mengabaikan kesederhanaan analisa bahwa Indonesia tidak terlalu memerlukan pendekatan keamanan, sebaliknya memerlukan manajemen yang profesional, berani, tegas, cerdas, cekatan dan tentu saja tidak mengabaikan pendekatan sosiologis budaya untuk proses pembangunan.

Demikian, semoga bermanfaat.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites